Temukan jendela dunia melalui ribuan koleksi buku kami yang siap menemani perjalanan belajar Anda.
Barangkali kamu bingung, mengapa meskipun sudah menjalin hubungan dengan seseorang yang kamu sayang, kamu tetap sering merasa tidak cukup mendapat keamanan dan kenyamanan yang kamu inginkan? Atau, di usiamu yang sekarang, kamu ragu apakah kamu benar-benar merasa baik-baik saja tanpa pasangan, akan tetapi dalam waktu yang sama kamu merasa membutuhkan seseorang untuk berbagi nasib? Cetak Biru Cinta: Keluarga, Pengabaian, dan Relasi Idaman diadopsi dari tesis magister psikologi klinis UGM karya Zahwa Islami, yang sejak kecil bercita-cita menjadi psikolog untuk menjawab ragam pertanyaannya semasa kanak-kanak. Mengapa seseorang baik atau jahat, melakukan perundung atau penyayang, dan pendiam atau banyak omong. Bagaimana karakter seseorang menjadi penentu penting bagi sikapnya terhadap pasangan romantisnya? Data-data ilmiah yang telah disulap menjadi bacaan yang menyenangkan dalam buku ini akan mengajakmu menempuh perjalanan kembali ke titik awal kehidupanmu: bagaimana kondisi keluarga memengaruhi relasi romantismu, serta seperti apa hubungan yang kamu idamkan.
RUE du Coq d'Or, Paris, pukul tujuh pagi. Serentetan teriakan marah dan menghujat membahana dari jalanan. Madame Monce, yang bekerja di hotel kecil di seberang hotel tempatku menginap, keluar untuk bicara dengan seorang pemondok yang mendiami kamar di lantai tiga. Dia memakai sepasang sepatu kayu tanpa kaus kaki dan rambutnya yang beruban tergerai lepas. Madame Monce: "Salope! Salope! Berulang-ulang aku bilang padamu, jangan memencet serangga di dinding! Hotel ini memang punya nenekmu? Kenapa tidak kau lemparkan saja serangga itu ke luar jendela seperti orang normal? Putain!³ Salope!" Perempuan di lantai tiga: "Vache!" Teriakan-teriakan lain menggelegak pula, seiring dengan terkuaknya jendela di tiap sudut. Separuh dari warga yang tinggal di Rue du Coq d'Or pun larut dalam ingar bingar itu. Kemudian, sepuluh menit berselang, mereka tiba-tiba terdiam, ketika satu skuadron kavaleri melintas. Orang-orang berhenti berteriak demi menonton mereka. Kubeberkan adegan ini untuk melukiskan jiwa Rue hal Coq d'Or. Pertengkaran sudah pasti bukanlah satu-satunya yang terjadi di sana—tetapi tetap saja kami jarang melewatkan pagi hari tanpa mendengar cekcok macam itu. Cekcok, dan gerundelan putus asa dari mulut pedagang jalanan, dan pekik anak-anak yang berburu kulit jeruk di tepi jalan, dan nyanyian lantang serta bau sengak gerobak sampah pada malam hari, memeriahkan suasana di jalan ini. Rue du Coq d'Or adalah sebuah jalan yang sangat sempit-lembah yang terbentuk dari bangunan-bangunan tinggi dan bobrok yang doyong dengan sudut yang tak wajar, seakan-akan membeku tepat ketika sedang diruntuhkan. Semua bangunan di sini adalah hotel-hotel yang dijejali pemondok, kebanyakan orang Polandia, Arab, dan Italia. Di lantai bawah hotel-hotel ini ada banyak bistro tempat orang bisa teler cukup dengan mengandalkan uang senilai satu shilling. Pada Sabtu ini
Otak manusia terdiri dari dua belahan, yaitu otak belahan kiri dan otak belahan kanan. Untuk mengoptimalkan potensi otak, penggunaan otak kiri dan kanan harus seimbang. Namun, kenyataan, terlebih dalam hal belajar, kebanyakan orang cenderung menggunakan otak kiri. Otak kiri mempunyai fungsi logika, tulisan, angka, hitungan, urutan, evaluasi, analisis, dan daya ingatnya bersifat jangka pendek. Sedangkan otak kanan mempunyai fungsi imajinasi, musik, warna, emosi, bentuk, kreativitas, dan daya ingatnya bersifat jangka panjang. Kelebihan otak kanan inilah yang harusnya kita manfaatkan untuk belajar.
Saat ini, kemampuan menulis ilmiah sudah menjadi keahlian wajib bagi dosen, guru, mahasiswa, dan bahkan pelajar. Malah lebih bagus lagi jika masyarakat umum juga memiliki kemampuan menulis ilmiah. Akan tetapi, banyak orang beranggapan bahwa penyusunan tulisan ilmiah adalah hal yang sulit. Memang, kemampuan menulis bukanlah keahlian yang muncul tiba-tiba, atau dapat diperoleh begitu saja dari orang lain. Butuh pelatihan diri untuk dapat menguasai keahlian penting ini. Inilah alasan hadirnya buku Betapa Mudah Menyusun Tulisan Ilmiah. Buku ini memberikan kontribusi bagi semua orang yang ingin menyusun tulisan ilmiah. Jika sebelumnya menyusun tulisan ilmiah dianggap sebagai hal yang sukar, dengan membaca buku ini pembaca diharapkan dapat terdorong untuk memiliki kemauan menulis, motivasi menulis, dan akhirnya mengembangkan fondasi kemampuan menulis yang kokoh.
Belum ada deskripsi untuk buku ini.
Buku ini menawarkan pendekatan reflektif dan praktis bagi guru dalam mengembangkan karakter profesional yang efektif. Jacquie Turnbull mengidentifikasi sembilan karakter utama yang menjadi fondasi guru hebat, seperti empati, ketegasan, integritas, dan kemampuan membangun hubungan positif dengan siswa.