Temukan jendela dunia melalui ribuan koleksi buku kami yang siap menemani perjalanan belajar Anda.
Mengajar adalah pekerjaan paling menyenangkan jika Anda memiliki siswa berperilaku baik. Setiap hari memberi Anda pengalaman baru dan berbeda: kesempatan untuk melihat siswa Anda menemukan konsep baru, mempelajari sesuatu yang tidak mereka ketahui sebelumnya, dan mengalami perubahan yang nyata dalam kehidupan mereka. Namun, bagaimana jika kelas yang Anda ajar berisi siswa berperilaku buruk? Mengajar bisa menjadi pekerjaan yang penuh tekanan. Anda tidak dapat mengajar dengan optimal sebelum masalah perilaku ini dipecahkan. Buku ini merupakan kumpulan ide, tips, dan strategi manajemen perilaku yang disarikan dari pengalaman penulis sebagai ahli perilaku yang telah membantu ribuan pendidik. Buku ini kaya sekaligus realistis: kaya karena penuh dengan strategi dan contoh yang telah terbukti efektif, dan realistis karena ditulis berdasarkan contoh nyata tentang perilaku buruk siswa. Ide dan strategi di dalam buku ini bersifat praktis sehingga dapat langsung Anda terapkan. Panduan Manajemen Perilaku Siswa adalah referensi dan sumber ide yang bermanfaat bagi para pendidik di tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. (A)
EXO adalah salah satu idol grup yang didebutkan oleh salah satu rumah produksi asal Korea, SM Entertainment pada tahun 2012. EXO menjadi salah satu idol grup yang sukses dari generasi ketiga yang tidak hanya berkiprah di Korea, tetapi juga merambah luas ke negara bagian Asia yang lain. Lantas, seperti apakah idol generasi ketiga SM Entertainment ini dari awal pembentukannya hingga menjadi idol global yang mendunia seperti sekarang ini? SM Entertainment sendiri merupakan salah satu perusahaan asal Korea yang didirikan oleh Lee Soo Man pada tahun 1995. SM Entertainment merupakan perusahaan entertainment pertama yang memperkenalkan sistem casting, training, producing, dan sistem manajemen, melalui konten yang unik dengan menunjukkan kebutuhan akan mudik dan tren budaya. “EXO adalah sebuah buku ciptaan Lee Soo Man, untuk mengisi lembaran buku itu kami membutuhkan pulpen, bagi kami EXOL adalah pulpen yang akan terus menuliskan sejarah dan cerita di tiap lembar halaman buku yang kosong itu. Jika EXOL tidak ada maka tidak ada lagi cerita tentang EXO. EXO ada karena EXOL. Jadi, mari kita bersama untuk waktu yang lama.”
Hari ini melakukan kesalahan kecil, pasti merasa sangat berdosa. Namun esok ketika kesalahan itu terulang kembali, sedikit demi sedikit perasaan berdosa itu berkurang. Dan akhirnya, bila terbiasa melakukan kesalahan yang sama, rasa berdosa akan benar-benar hilang. Hari ini mencium bau busuk, rasanya seperti mau muntah. Namun esok saat menciumnya kembali, lagi, dan lagi, kita tidak akan lagi mencium apa pun. Setiap kesalahan harus secepatnya kita koreksi, sebelum perasaan bersalah dalam diri kita benar-benar hilang.
Bagi orang-orang yang ditinggalkan, kematian dan prosesi setelahnya bisa terasa sangat cepat. Pemakaman langsung dilakukan saat mereka masih syok, sedangkan emosi belum sepenuhnya menyala. Di saat bersamaan mereka harus menghadapi pertanyaan para peziarah tentang penyebab, waktu, dan detik-detik kematian. Lalu saat peziarah terakhir pulang dan pintu rumah tertutup, tiba-tiba kesunyian menyergap dari berbagai penjuru. Rasanya seperti memasuki tempat yang asing. Mereka tahu ini rumah yang sama seperti sebelumnya. Namun ketiadaan orang yang mereka cintai membuat seluruh sudut rumah ini terasa berbeda. Kematian adalah hal biasa bagi orang yang menyaksikan dari jauh, membaca dari berita, atau mendengar dari pengumuman di masjid. Setiap hari ada orang meninggal, setiap hari pula ada manusia lahir. Namun jika kematian itu menghampiri orang-orang yang kita sayangi, kita baru akan mengerti betapa ia bisa mengubah segalanya untuk selamanya. Mungkin arti hidup kita berubah. Berbagai kebahagiaan pun tidak lantas menghapusnya. Jika hati serupa ruangan, duka menjadi penghuni tetapnya. Tidak mudah “mengusirnya” dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa. Buku ini ditulis berdasarkan penghayatan penulis atas pengalaman ditinggal orang tua. Ia mengajak kita melalui duka dengan menggenggam kenangan baik tentang sosok yang telah “pergi” sebagai penerangnya. Barangkali dengan begitu, kita bisa melalui terowongan kedukaan yang sangat panjang ini.
Blurb: Berapa pun bobotnya, nyaris tak ada perjalanan dilakukan tanpa memikirkan bagasi dan muatannya. Perjalanan selalu tentang apa dibawa dan ditinggalkan. Pulang-Pergi: Yang Dibawa dan Ditinggalkan adalah sehimpun kisah perjalanan Alexander Thian bersama muatannya. Muatan itu menyembunyikan rahasia tentang seorang anak laki-laki kurus yang harus meninggalkan kampung halamannya, Pontianak, sejak kepergian sang ayah. Sendirian, ia menghadapi ketidakadilan dunia dan trauma akibat kehilangan, ditinggalkan, serta ditelantarkan. Alex menyusuri dunia dengan memanggul amarah terpendam, kekecewaan terhadap keadaan, perasaan kecil dan tak berarti akibat perundungan, serta depresi karena kesepian. Berlatar Pontianak, Malang, Bali, Belanda, Prancis, hingga Islandia, Alex membongkar muatannya satu per satu: memilih apa-apa yang akan terus dibawa hingga ke hari depan dan meninggalkan apa-apa yang memberatkan langkah di perjalanan.
Helen McGill, seorang mantan guru pribadi berusia hampir empat puluh tahun, adalah adik Andrew McGill, seorang mantan pengusaha. Setelah meninggalkan karier pertama mereka, keduanya pindah ke pertanian dan menjalani kehidupan yang tenang. Hingga, paman mereka yang bernama Phillips wafat dan mewariskan setumpukan buku. Hari yang menentukan itu memicu berbagai hal yang akan menjadi bencana bagi kehidupan Helen yang damai. Andrew beralih menjadi pembaca yang tekun dan bahkan menerbitkan buku karangannya sendiri. Tanpa diduga, karyanya meledak di pasaran. Andrew secara teratur meninggalkan pertanian untuk menyendiri dan menulis, menjalani tur buku, bertemu orang-orang penerbitan. Ini membuat Helen berang dan merasa kurang dihargai. Jadi, ketika Roger Mifflin tiba di pertanian dengan karavan berisi ratusan buku dan bermaksud menjualnya kepada Andrew, Helen malah membelinya. Hanya dalam beberapa menit, dia mengemas tasnya, meninggalkan pesan kepada Andrew, dan bersama Roger Mifflin, membawa karavan Parnassus untuk melakukan petualangannya sendiri. Kisah seru ini dihiasi dengan perkelahian sengit di pinggir jalan, pelarian heroik dari kematian, hidangan paling lezat dalam sejarah masakan Yankee, rekomendasi buku dari tahun 1800-an, dan kisah cinta yang langka—tanpa melupakan pandangan feminis dari awal 1900-an.
Catatan Harian Adam dan Hawa', yang terdiri dari catatan harian Adam dan Hawa serta kisah-kisah lainnya. Dalam catatan tersebut, Adam menggambarkan pengalamannya hidup bersama Hawa di Taman Firdaus, termasuk ketidaknyamanannya terhadap kehadiran Hawa dan berbagai dinamika antara mereka. Karya ini menyajikan pandangan satir tentang hubungan manusia dan penciptaan, serta menyoroti tema kebebasan dan pembatasan.
ika anak hanya diasuh dengan aturan dan tips, ia bisa tumbuh menurut, tapi pelan-pelan keropos di dalam. Ia mengikuti arahan orang tua, tapi diam-diam tak bahagia dan tak berani bercerita. Semua tampak berjalan baik-baik saja, sampai suatu hari ia kelelahan—lalu mogok, atau memberontak. Saat itulah orang tua baru bertanya: Apa yang salah dengan pengasuhanku? Orang tua tak sadar bahwa selama ini ia mengasuh dengan ideal “kesempurnaan” yang menekan. Ia lupa memberi ruang bernapas bagi dirinya maupun anaknya. Ia tidak menyadari bahwa caranya mencintai terbentuk dari luka lama yang belum pulih. Ia terus mendorong sang anak—sebagai perpanjangan dirinya, sebagai piala yang tak boleh jatuh, atau sebagai mimpi yang dulu tak sempat diwujudkan. Anak pun tumbuh dalam rumah yang terasa sesak. Rumah Tempat Cinta Bertumbuh mengajak kita memeriksa diri, relasi, dan dampaknya—yang sering kali tak kita sadari. Buku ini hadir sebagai cermin yang lembut, membantu kita melihat luka yang tertinggal. Jika kita izinkan, kita akan menemukan kesadaran dan pemaafan.