Temukan jendela dunia melalui ribuan koleksi buku kami yang siap menemani perjalanan belajar Anda.
INILAH New York, dan Umar Kyam bercerita dari dalamnya. New York adalah satu raksasa pemakan manusia. Raksasa ini entah karena kena penyakit apa, tidak pernah merasa kenyang biar dia sudah makan berapa ribu manusia. Karena itu mulutnya terus saja menganga tidak sempat menutup. Segala manusia, putih hitam, kuning, coklat, besar, kecil, ditelannya tanpa pilih-pilih lagi”. Umar Kayan mengutip perubahan itu dalam cerita Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa, cerita kedua dan yang terpanjang dalam kumpulan ini. Secara tipikal, dia tidak menyatakan adakah dia setuju atau tidak dengan karikatur tentang New York tersebut. Namun 6 buah cerita pendek yang ditulisnya selama ia hidup di kota itu semuanya dengan latar Manhatan (sebuah “belantara”, katanya) menampilkan kota jutaan itu sebagai dunia yang menarik, tapi murung. “Aku melihat ke luar jendela. Ribuan pencakar langit kelihatan seperti gunduk-gunduk bukit yang hitam, kaku dan garang.”
Apa rahasia bakat? Bagaimana kita membukanya? Dalam karya inovatif ini, jurnalis dan penulis buku laris New York Times Daniel Coyle memberi orang tua, guru, pelatih, pebisnis—dan semua orang—dengan alat yang dapat mereka gunakan untuk memaksimalkan potensi dalam diri mereka sendiri dan orang lain. Baik Anda melatih sepak bola atau mengajar anak bermain piano, menulis novel, atau mencoba meningkatkan ayunan golf Anda, buku revolusioner ini menunjukkan kepada Anda cara menumbuhkan bakat dengan memanfaatkan mekanisme otak yang baru ditemukan. Menggambar pada neurologi mutakhir dan penelitian langsung yang dikumpulkan dalam perjalanan ke sembilan sarang bakat dunia—dari lapangan bisbol di Karibia hingga akademi musik klasik di bagian utara New York—Coyle mengidentifikasi tiga elemen kunci yang akan memungkinkan Anda untuk berkembang hadiah Anda dan optimalkan kinerja Anda dalam olahraga, seni, musik, matematika, atau apa saja. Latihan Mendalam--Semua orang tahu bahwa latihan adalah kunci sukses. Yang tidak diketahui semua orang adalah bahwa jenis latihan tertentu dapat meningkatkan keterampilan hingga sepuluh kali lebih cepat daripada latihan konvensional. Ignition--Kita semua membutuhkan sedikit motivasi untuk memulai. Tapi apa yang membedakan orang yang benar-benar berprestasi tinggi dari yang lain? Tingkat komitmen yang lebih tinggi—sebut saja gairah—lahir dari hasrat bawah sadar kita yang paling dalam dan dipicu oleh isyarat utama tertentu. Memahami bagaimana sinyal ini bekerja dapat membantu Anda menyalakan gairah dan mengkatalisasi pengembangan keterampilan. Pelatihan Master--Apa rahasia guru, pelatih, dan pelatih paling efektif di dunia? Temukan empat kebajikan yang memungkinkan para “pembisik bakat” ini mengobarkan semangat, menginspirasi latihan yang mendalam, dan mengeluarkan yang terbaik dari siswa mereka. Ketiga elemen ini bekerja bersama di dalam otak Anda untuk membentuk myelin, zat saraf mikroskopis yang menambah kecepatan dan akurasi dalam jumlah besar pada gerakan dan pikiran Anda. Para ilmuwan telah menemukan bahwa mielin mungkin saja merupakan cawan suci: dasar dari semua bentuk kebesaran, dari milik Michelangelo hingga Michael Jordan. Kabar baiknya tentang myelin adalah bahwa itu tidak diperbaiki saat lahir; sebaliknya, ia tumbuh, dan seperti apa pun yang tumbuh, ia dapat dibudidayakan dan dipelihara.
Kisah Kambing dan Hujan menceritakan tentang kisah cinta tak sampai antara dua anak pentolan Kiai Muhammadiyah dan NU di desa Centong. Fauzia (anak dari Kiai NU) dan Miftah (anak Kiai Muhammadiyah) tak bisa dengan leluasa mengutarakan keinginannya untuk menikah, karena buruknya hubungan penganut dua aliran tersebut. Kisah mereka akhirnya ikut membuka alasan dan asal-usul perselisihan tiada akhir antara Muhammadiyah dan NU disana. Ritme kisah ini yang sebenarnya sangat sederhana, tapi sisi kemanusiaannya sangat mengena. Walaupun kisah cintanya lumayan manis dan sedikit romantis, tapi kisah Fauzia dan Miftah didalam buku ini hanyalah bahan pelengkap. Ibarat acar di nasi goreng, di mana kita tetap bisa makan nasi goreng tanpa acar. Tapi tentu lebih enak makan nasi goreng yang ada acarnya. Kira-kira begitulah penggambaran tentang komposisi cerita cinta dalam buku ini.
Aku tahu, aku telah menyebutkan ini berulang kali, mengingatkanmu lagi dan lagi, tapi akan kukatakan kembali di sini: Jagalah selalu gembira di hatimu, Nak. Selalu.
Ketiadaan ayah menciptakan ruang kosong dalam hati anak. Yang meskipun kita berusaha menutupinya dengan pencapaian, pujian, dan kesuksesan, kekosongan itu akan tetap kita rasakan. Jika kita biarkan, ruang kosong itu akan semakin menggerogoti jiwa kita dan membuat kita tenggelam dalam luka yang tak berkesudahan.
Sekolah Bisa Semerdeka Ini merupakan narasi penting dari SALAM (Sanggar Anak Alam). Sebuah sekolah di Nitiprayan, Yogyakarta, yang selama bertahun-tahun tahun dikenal dengan pembelajaran merdeka, benar-benar merdeka. Tujuh penulis menceritakan ekosistem SALAM sebagai subjek yang terlibat, bukan mengamati dari jauh. Dari sana kita menyaksikan ruang dialog antara siswa dengan fasilitator dan orang tua. Tidak ada keputusan tunggal, hanya ada kesepakatan. Pendidikan di SALAM memberi ruang bagi setiap orang untuk memilih apa yang dia suka dan mengatakan apa yang dia pikirkan. Salah satu model pendidikan pembebasan yang patut kita kaji.
FILSAFAT KEBAHAGIAAN Dari Plato, via Al-Farabi dan Al-Ghazali, Sampai Ki Ageng Suryomentaram. Orang boleh berbeda dalam banyak hal, tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia. Sayangnya, makna bahagia itu tidak tunggal dan sama bagi semua orang. Bahagia bagi yang satu, boleh jadi bukan bahagia bagi yang lain. Bahagia itu ternyata macam-macam dan bisa saling bertentangan. Maka, layak sekali kalau orang bertanya: apa, sih, bahagia itu sebenarnya? Empat orang bijak—Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram—menawarkan konsep kebahagiaan, berikut cara-cara mencapainya. Meski masing-masing mengambil pendekatan berbeda, ada beberapa kesamaan yang mencolok: bahwa orang mesti mengenal diri sendiri sebagai titik berangkat, dan orang menemukan diri sendiri sebagai titik tujuan. Mustahil orang mencapai kebahagiaan kalau tidak tahu siapa dirinya dan apa makna bahagia bagi dirinya.
Buku ini buku tentang perempuan yang ditulis oleh perempuan. Perempuan mungkin lembut, tetapi perempuan juga adalah pejuang tangguh. Perempuan memang cantik, tapi cantiknya bukan hanya dari bersolek tetapi juga bersinar karena kecerdasannya. Kalis mengajak kita untuk melihat perempuan dari berbagai aspek. Banyak perempuan yang sukses dengan keluarga dan pendidikan, di sisi lain masih banyak perempuan yang masih terlilit persoalan: para ibu tunggal yang harus berjuang membesarkan anaknya, korban kawin muda, buruh perempuan tanpa upah layak, perempuan korban kekerasan, dan banyak lagi. Dan sebagai sesama perempuan, kita harusnya saling menguatkan bukan saling menjatuhkan.
Ini persamaan hidupku sekarang, Bu,” Desi menyodorkan buku catatan ke tengah meja. Bu Amanah, yang juga guru matematika tersenyum getir melihat persamaan garis lurus dengan variabel-variabel yang didefinisikan sendiri oleh Desi. x1: pendidikan, x2: kecerdasan. Yang menarik perhatiannya adalah konstanta a: pengorbanan. “Pendidikan memerlukan pengorbanan, Bu. Pengorbanan itu nilai tetap, konstan, tak boleh berubah” Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, umumnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya, lalu secara menyedihkan terseret arus deras sungai besar rutinitas dan basa-basi birokrasi lalu tunduk patuh pada sistem yang buruk. Dalam kenyataan hidup seperti itu, seberapa jauh Desi berani mempertahankan idealismenya menjadi guru matematika di sekolah pelosok?
Seorang anak berusia enam tahun menangis di pelukan ibunya yang tengah sakratul maut. Pada napas terakhirnya, sang ibu membisikkan, “Muhammad, jadilah pengubah dunia!”. Anak yatim piatu itu harus mengatasi rintangan besar untuk mengeluarkan potensinya dan menginspirasi orang lain, di tengah masyarakat suku yang enggan dengan perubahan. Mohamad Jebara menghidupkan kisah pribadi yang mencekam tentang nabi pendiri Islam. Ia menggabungkan detail yang sudah lama diketahui oleh para cendekiawan Muslim, tetapi tidak dapat diakses oleh masyarakat umum. Dari kelahirannya yang dramatis, hampir diculik ke dalam perbudakan, hingga melarikan diri dari pembunuhan, Muhammad muncul sebagai seorang pria yang tak kenal lelah dalam sebuah misi. Kisah ini menggambarkan secara vivid visi inovatif Muhammad yang membantu membentuk dunia modern kita hingga saat ini.