Temukan jendela dunia melalui ribuan koleksi buku kami yang siap menemani perjalanan belajar Anda.
Mariam is only fifteen when she is sent to Kabul to marry the troubled and bitter Rasheed, who is thirty years her senior. Nearly two decades later, in a climate of growing unrest, tragedy strikes fifteen-year-old Laila, who must leave her home and join Mariam's unhappy household. Laila and Mariam are to find consolation in each other, their friendship to grow as deep as the bond between sisters, as strong as the ties between mother and daughter. With the passing of time comes Taliban rule over Afghanistan, the streets of Kabul loud with the sound of gunfire and bombs, life a desperate struggle against starvation, brutality and fear, the women's endurance tested beyond their worst imaginings. Yet love can move people to act in unexpected ways, lead them to overcome the most daunting obstacles with a startling heroism. In the end it is love that triumphs over death and destruction. A Thousand Splendid Suns is a portrait of a wounded country and a story of family and friendship, of an unforgiving time, an unlikely bond, and an indestructible love.
Atisha menjalani hidupnya dengan hati-hati. Sebagai seorang analis kredit di sebuah bank, dia terbiasa menganalisis segala sesuatu, dan tahu betapa sebuah risiko kecil yang tidak diantisipasi bisa menimbulkan masalah luar biasa besar. Apalagi Atisha adalah tulang punggung keluarga, she cannot afford making mistakes. Karena itu, dia selalu menimbang risiko dan memilih jalan aman agar hidupnya baik-baik saja. Tetapi, nasib memang suka mempermainkan hidupnya. Akibat kecurangan mantan atasannya, Atisha harus bertanggung jawab atas kredit macet Bakmi Aman—salah satu debiturnya. Siapa
Paradise is at once the story of an African boy's coming of age, a tragic love story, and a tale of the corruption of traditional African patterns by European colonialism. It presents a major African voice to American readers - a voice that prompted Peter Tinniswood to write in the London Times, reviewing Gurnah's previous novel, "Mr. Gurnah is a very fine writer. I am certain he will become a great one." Paradise is Abdulrazak Gurnah's great novel. At twelve, Yusuf, the protagonist of this twentieth-century odyssey, is sold by his father in repayment of a debt. From the simple life of rural Africa, Yusuf is thrown into the complexities of precolonial urban East Africa - a fascinating world in which Muslim black Africans, Christian missionaries, and Indians from the subcontinent coexist in a fragile, subtle social hierarchy. Through the eyes of Yusuf, Gurnah depicts communities at war, trading safaris gone awry, and the universal trials of adolescence. Then, just as Yusuf begins to comprehend the choices required of him, he and everyone around him must adjust to the new reality of European colonialism. The result is a page-turning saga that covers the same territory as the novels of Isak Dinesen and William Boyd, but does so from a perspective never before available on that seldom-chronicled part of the world.
John Musiciante kehilangan gitarnya karena ulah kriminal amatir. Hidup pria itu langsung luluh lantak. Bagi musisi legendaris seperti dirinya, gitar itu punya nilai sentimentil yang tak bisa digantikan dengan uang sebesar apa pun. Pada saat itulah, Brianna dan Bottomwise, detektif kenamaan yang cerdik dan karismatik, terlibat ke dalam pusaran arus pencarian gitar legendaris yang penuh kejutan. Sementara itu, Sadman si musisi telinga kuali akhirnya berhasil mengumpulkan uang dari berjualan tauco untuk mewujudkan impiannya: menghidupkan band lama dengan kawan-kawannya yang juga buta nada dan turut memeriahkan dinamika orkes Melayu di kampung asalnya. Sadman tidak sendirian. Banyak musisi lainnya, tua-muda, jujur-korup, yang juga ingin mengukuhkan keberadaan mereka lewat musik. Dan, gitar legendaris itu.
Di mata Abel, David adalah cowok sempurna. Dia ganteng, populer, meski tengil tetapi baik, dan selalu berada di sisi Abel. Tiap David memandangnya, Abel selalu berharap rona merah di pipinya tidak ketahuan oleh David. Apalagi saat David menyentuhnya, mengacak rambutnya, seolah seluruh partikel di dalam tubuh Abel siap memelesat tinggi menembus langit. Hanya satu kekurangan David, ia adalah sahabat Abel. Di mata David, Abel adalah cewek tomboi yang sejak kecil berada di orbit kehidupannya. Ia merasa sangat nyaman bersama Abel. David nggak perlu jaga image di depan cewek itu. Sayangnya, kenyamanan yang berlebihan ini membuatnya lupa, bahkan nggak peka. Tanpa sadar janji David untuk selalu menjadi sahabat Abel selamanya, justru melukai perasaan gadis itu.
Tanpa Rencana merupakan karya antologi Dee yang keempat. Tajuk antologi ini dipilih untuk menggambarkan proses kreatif unik Dee saat menuliskan karya-karya di dalamnya. Dee menggarap ide-ide yang tebersit spontan, tak jarang ditulis sekali jadi. Kendati demikian, 18 cerita dalam Tanpa Rencana begitu kaya akan makna dan diperkuat impresinya oleh ilustrasi di halaman-halamannya. Berbagai perenungan mendalam tentang hidup, kematian, kehilangan, penerimaan, dan spiritualitas, kembali berhasil diolah Dee menjadi cerita pendek serta puisi naratif yang renyah, lincah, sekaligus menyentuh.
Kita semua pernah membuat kesalahan. Kita harus menyesali kesalahan kita dan belajar dari situ, tapi jangan pernah terus membawa kesalahan itu ke masa depan. Itulah yang dikisahkan dalam Anne of Avonlea. Anne menolak beasiswa dan memilih mengajar di Sekolah Avonlea, sekolah yang dulu pernah menjadi tempatnya menuntut ilmu. Dia bercita-cita menjadi guru yang dicintai dan mengantar murid-muridnya menuju masa depan yang cerah. Namun, bisakah Anne mengubah Prilie Rogerson yang genit, Annetta Bell yang histeris, Joe Sloane yang gagap, Anthony Pye yang bandelnya minta ampun, dan Barbara Shaw yang canggung dan selalu tersandung kakinya sendiri? Semua orang di Avonlea meragukannya. Anne kesal dengan anggapan itu. Dia bertekad membuktikan bahwa mereka salah tanpa kehilangan gaya khasnya yang berani, riang, dan imajinatif.
Karya klasik yang tak lekang oleh waktu ini bercerita tentang kehidupan empat bersaudari, suatu masa di Concord, Massachusetts. Meg, si Cantik keibuan yang bermimpi menjadi ratu bergaun indah. Jo, si Tomboi yang sangat mencintai buku dan sastra. Beth, si Pendiam yang begitu berbakat memainkan piano. Dan Amy, Michelangelo kecil dengan sketsa-sketsa memukau di kertas gambarnya. Hari-hari mereka sederhana, tapi dilingkupi kehangatan. Walaupun tak pernah luput dari masalah, kesedihan, ketidakpuasan, bahkan pertengkaran, mereka tak pernah berhenti saling mencintai dan teramat bersyukur memiliki satu sama lain. Sang Ibu yang selalu berada di samping mereka memberikan banyak inspirasi dan semangat, sementara bocah laki-laki kaya bernama Laurie, yang ikut serta dalam setiap petualangan keempat gadis itu, membawa keceriaan yang tak tergantikan.