Temukan jendela dunia melalui ribuan koleksi buku kami yang siap menemani perjalanan belajar Anda.
A sharply intelligent novel about friendship, lust, jealousy, and the unexpected complications of adulthood in the 21st century. From the bestselling author of normal people, now a major tv series screening on stan. Frances is a cool-headed and darkly observant young woman, vaguely pursuing a career in writing while studying in Dublin. Her best friend and comrade-in-arms is the beautiful and endlessly self-possessed bobbi. At a local poetry performance one night, Frances and Bobbi catch the eye of Melissa, a well-known photographer, and as the girls are then gradually drawn into Melissa's world, Frances is reluctantly impressed by the older woman's sophisticated home and tall, handsome husband, Nick. However amusing and ironic Frances and Nick's flirtation seems at first, it gives way to a strange intimacy, and Frances's friendship with Bobbi begins to fracture. As Frances tries to keep her life in check, her relationships increasingly resist her control: with Nick, with her difficult and unhappy father, and finally, terribly, with Bobbi.
Beautiful World, Where are You adalah novel ketiga Sally Rooney. Novel ini bercerita tentang Alice, seorang novelis Irlandia yang sangat sukses yang, setelah mengalami gangguan saraf, telah menyewa rumah pendeta tua yang terisolasi dan berukuran besar. Terletak tiga jam dari Dublin di pinggiran kota pesisir, di mana dia tidak mengenal siapa pun, hingga pada akhirnya bertemu dengan Felix, seseorang yang bekerja di gudang pengiriman. Mereka terhubung melalui Tinder. Kemudian Alice bertanya dan mengajak Felix apakah dirinya ingin pergi ke Roma bersamanya.
Orang-orang muda mendapatkan ide bodoh bahwa apa yang baru bagi mereka pasti juga baru bagi semua orang. Tidak peduli seberapa tidak konvensionalnya mereka, mereka hanya mengulangi apa yang orang lain lakukan sebelumnya. Buku ini mengikuti Kazu, pemilik usia menengah dari sebuah restoran Jepang kelas atas yang melayani politisi. Dia bertemu dengan seorang duta besar semi-pensiunan, Noguchi, tumbuh untuk menyukainya, dan akhirnya menikah dengannya. Dari sana novel mengeksplorasi konflik yang muncul di antara keduanya, seperti ketegangan antara dunia politik, kehidupan Kazu yang sebelumnya tertata dengan baik, dan integritas Noguchi berkobar. Itu ditulis dalam gaya Jepang yang jelas, mengkhianati sedikit emosi batin karakter, serta memikirkan detail pakaian dan makanan dengan sangat rinci.
Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya, merupakan buku kumpulan cerita pendek karya Reda Gaudiamo. Dalam buku terbarunya ini, Reda merangkai tiga puluh satu cerita pendek yang mengangkat cerita tentang mereka yang sering terlewatkan pandangan kita, mulai dari kisah seorang penjual keliling dengan rahasianya, tetangga yang terlihat sederhana tapi menyimpan keberanian luar biasa, hingga seorang teman kecil yang mengajarkan arti kehilangan, dan cerita lainnya. Di balik setiap wajah yang kita jumpai, ada kisah yang nyaris tak pernah terucap. Melalui Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya, Reda Gaudiamo merangkai tiga puluh satu cerita pendek yang mengingatkan kita, bahwa hidup tidak pernah benar-benar biasa. Di tangan Reda, cerita orang-orang biasa berubah menjadi potret kehidupan yang hangat, lucu, dan terkadang menyayat—serta membuat kita sadar, mungkin kita pun salah satunya.
Na Willa duduk sendiri di sekolah, membaca Wiro, sementara anak lain asyik bermain. Kini ia di Jakarta, jauh dari rumah di dalam gang, jauh dari teman masa kecilnya, dan hari-harinya dimulai dengan murung. Hingga suatu kali Na Willa berjumpa dengan anak yang menghitung jumlah kaki kursi, anjing kecil yang bisa berubah warna, bibi yang biara dalam bahasa yang tak ia pahami, paman yang membawa koper kaleng, juga Rano Karno! Dan di antaranya, Mak dan Pak membawa kabar yang membuat Na Willa semakin sebal pada kata sabar.
Hari-hari Na Willa masih dipenuhi kegembiraan: bermain-main bersama teman-teman kecilnya, membaca buku-buku baru dari bu Juwita, atau menyanyi di RRI. Apalagi Pak kini juga mengisi hari-harinya. Pak mengantar Na Willa ke sekolah dan membelikan es krim (tanpa bilang-bilang Mak), atau mengajarinya ketak-ketik di kantor, atau bersama-sama menggambari dinding rumah (barangkali hanya rumah Na Willa yang dindingnya juga digambari bapak- bapak). Na Willa bahagia tinggal di rumah kecilnya di dalam gang. Hingga suatu hari Pak memberi kabar yang membuat dunia kecilnya terguncang.
Ayah dan Sirkus Pohon adalah novel dengan tema pendidikan yang masih tetap menjadi isu hangat di Indonesia. Dikemas dengan kisah antara ayah dan anak, mengkritisi kondisi sosial masyarakat Indonesia dengan gaya yang kocak dan memikat. Betapa Sabari menyayangi Zorro. Ingin dia memeluknya sepanjang waktu. Dia terpesona melihat makhluk kecil yang sangat indah dan seluruh kebaikan yang terpancar darinya. Diciuminya anak itu dari kepala sampai ke jari-jemari kakinya yang mungil. Kalau malam Sabari susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lalui dengan anaknya jika besar nanti. Dia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda saban sore ke taman kota.
INILAH New York, dan Umar Kyam bercerita dari dalamnya. New York adalah satu raksasa pemakan manusia. Raksasa ini entah karena kena penyakit apa, tidak pernah merasa kenyang biar dia sudah makan berapa ribu manusia. Karena itu mulutnya terus saja menganga tidak sempat menutup. Segala manusia, putih hitam, kuning, coklat, besar, kecil, ditelannya tanpa pilih-pilih lagi”. Umar Kayan mengutip perubahan itu dalam cerita Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa, cerita kedua dan yang terpanjang dalam kumpulan ini. Secara tipikal, dia tidak menyatakan adakah dia setuju atau tidak dengan karikatur tentang New York tersebut. Namun 6 buah cerita pendek yang ditulisnya selama ia hidup di kota itu semuanya dengan latar Manhatan (sebuah “belantara”, katanya) menampilkan kota jutaan itu sebagai dunia yang menarik, tapi murung. “Aku melihat ke luar jendela. Ribuan pencakar langit kelihatan seperti gunduk-gunduk bukit yang hitam, kaku dan garang.”
Kisah Kambing dan Hujan menceritakan tentang kisah cinta tak sampai antara dua anak pentolan Kiai Muhammadiyah dan NU di desa Centong. Fauzia (anak dari Kiai NU) dan Miftah (anak Kiai Muhammadiyah) tak bisa dengan leluasa mengutarakan keinginannya untuk menikah, karena buruknya hubungan penganut dua aliran tersebut. Kisah mereka akhirnya ikut membuka alasan dan asal-usul perselisihan tiada akhir antara Muhammadiyah dan NU disana. Ritme kisah ini yang sebenarnya sangat sederhana, tapi sisi kemanusiaannya sangat mengena. Walaupun kisah cintanya lumayan manis dan sedikit romantis, tapi kisah Fauzia dan Miftah didalam buku ini hanyalah bahan pelengkap. Ibarat acar di nasi goreng, di mana kita tetap bisa makan nasi goreng tanpa acar. Tapi tentu lebih enak makan nasi goreng yang ada acarnya. Kira-kira begitulah penggambaran tentang komposisi cerita cinta dalam buku ini.